Ahad, 23 Januari 2011

Kembara 20 Kisah Ahli Sufi

artikel mengenai Uwais Al-Qarani  



Meraup Hikmah Sang Nafas ar-Rahmandari dari Yaman
Nama Uwais al-Qarani memainkan peranan penting dalam biografi mistikal nabi. “Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup. Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pemba’iatan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misteri, Khidhir.
Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil di dekat Nejed. Tidak diketahui bila beliau dilahirkan. Ia dilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah berpendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya. Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, ia bekerja sebagai penggembala dan pemelihara ternak upahan. Dalam kehidupan kesehariannya ia lebih banyak menyendiri dan bergaul hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya. Oleh karenanya, ia tidak dikenal oleh kebanyakan orang disekitarnya, kecuali para tuan pemilik ternak dan sesamanya, para penggembala.
Hidupnya amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki hanya yang melekat di tubuhnya. Setiap harinya ia lalui dengan berlapar-lapar sahaja. Ia hanya makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah memakan makan yang dimasak atau diolah. Oleh karenanya, ia merasakan betul derita orang-orang kecil disekitarnya. Tidak cukup dengan empatinya yang sedemikian, rasa takutnya kepada Allah mendorongnya untuk selalu berdoa kedapa Allah : “Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku, karena ada yang mati karena kelaparan, dan jangan Engku menyiksaku karena ada yang kedinginan.”
Ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, juga termanifestasi dalam kecintaannya dan ketaatannya kepada Rasulullah dan kepada kedua orang tuanya, sangat luar biasa. Di siang hari, ia bekerja keras, dan dimalam hari, ia asyik bermunajat kepada Allah swt. Hati dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, meskipun ia sedang bekerja. Ala kulli hal, ia selalu berada bersama Tuhan, dalam pengabdian kepada-Nya.
Rasulullah saw menuturkan keistimewaan Uwais di hadapan Allah kepada Umar dan Ali bahawa dihari kiamat nanti, disaat semua orang dibangkitkan kembali, Uwais akan memberikan syafaat kepada sejumlah besar umatnya, sebanyak jumlah domba yang dimiliki Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak). Karena itu, Rasulullah menyarankan kepada mereka berdua agar menemuinya, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta keduanya untuk mendoakan keduanya, yang digambarkan bahawa Uwais memiliki tinggi badan yang sedang dan berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya.
Sejak Rasulullah menyarankan keduanya untuk menemuinya, sejak itu pula keduanya selalu penasaran ingin segera bertemu dengan Uwais. Setiap kali Umar mahupun Ali bertemu dengan rombongan orang-orng Yaman, ia selalu berusaha mencari tahu dimana keberadaan Uwais dari rombongan yang ditemuinya. Namun, keduanya selalu gagal mendapatkan informasi tentang Uwais. Barulah setalah Umar diangkat menjadi khalifah, informasi tentang Uwais keduanya perolih dari serombongan orang Yaman, “Ia tampak gila, tinggal sendiri dan tidak brgaul dengan masyarakat. Ia tidak makan apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, dan tidak tampak susah atau senang. Ketika orang-orang tersenyum ia menangis, dan ketika orang-orang menangis ia tersenyum”. Demikian kata rombongan orang-orang Yaman tersebut. Mendengar cerita orang-orang Yaman tersebut, Umar dan Ali segera berangkat menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang-orang Yaman tadi.
Akhirnya, keduanya bertemu dengan Uwais di suatu tempat terpencil. Abi Naim al-Afshani menuturkan dialog yang kemudian terjadi antara Umar dan Ali dengan Uwai al-Qarani sebagai berikut:
Umar : Apa yang anda kerjakan disini ?
Uwais : Saya bekerja sebagai penggembala
Umar : Siapa nama Anda?
Uwais : Aku adalah hamba Allah
Umar : Kita semua adalah hamba Allah, akan tetapi izinkan kami untuk mengetahui anda lebih dekat lagi
Uwais : Silakan saja.
Umar dan Ali : Setelah kami perhatikan, andalah orang yang pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada kami. Doakan kami dan berilah kami nasihat agar kami beroleh kebahagiaan dunia dan di akhirat kelak.
Uwais : Saya tidak pernah mendoakan seseorang secara khusus. Setiap hari saya selalu berdoa untuk seluruh umat Islam. Lantas siapa sebenarnya anda berdua.
Ali : Beliau adalah Umar bin Khattab, Amirul Mu’minin, dan saya adalah Ali bin Abi Thalib. Kami berdua disuruh oleh Rasulullah SAW untuk menemui anda dan menyampaikan salam beliau untuk anda.
Umar : Berilah kami nasihat wahai hamba Allah
Uwais : Carilah rahmat Allah dengan jalan taat dan penuh harap dan bertawaqal kepada Allah.
Umar :Terimakasih atas nasehat anda yang sangat berharga ini. Sebagai tanda terima kasih kami, kami berharap anda mahu menerima pakaian dan wang untuk anda pakai.
Uwais : Terimakasih wahai Amirul mu’minin. Saya sama sekali tidak bermaksud menolak pemberian tuan, tetapi saya tidak memerlukan apa yang anda berikan itu. Upah yang saya terima adalah 4 dirham itu sudah lebih dari cukup. Lebihnya saya berikan kepada ibuku. Setiap hari saya cukup makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah makan makan yang di masak. Kurasa hidupku tidak akan sampai petang hari dan kalau petang, kurasa tidak akan sampai pada pagi hari. Hatiku selalu mengingat Allah dan sangat kecewa bila sampai tidak mengingat-Nya.
Ketika orang-orang Qaran mulai mengetahui kedudukan spiritualnya yang demikian tinggi di mata Rasulullah saw, mereka kemudian berusaha untuk menemui dan memuliakannya. Akan tetapi, Uwais yang sehari-harinya hidup penuh dengan kesunyian ini, diam-diam meninggalkan mereka dan pergi menuju Kufah, melanjutkan hidupnya yang sendiri. Ia memilih untuk hidup dalam kesunyian, hati terbatas untuk yang selain Dia. Tentu saja, “kesunyian” disini tidak dikenali dengan bersendirian (pengasingan diri). Hakikat bersendirian ini terletak pada kecintaanya kepada Tuhan. Siapa yang mencintai Tuhan, tidak akan terganggu oleh apapun, meskipun ia hidup ditengah-tengah keramaian.
Setelah seorang sufi bernama Harim bin Hayyam berusaha untuk mencari Uwais setelah tidak menemukannya di Qaran. Kemudian ia menuju Basrah. Di tengah perjalanan menuju Basrah, inilah, ia menemukan Uwais yang mengenakan jubah berbulu domba sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu Uwais beranjak naik menuju tepian sungai sambil merapikan jenggotnya. Harim mendekat dan memberi salam kepadanya.
Uwais : menjawab: “ Wa alaikum salam”, wahai Harim bin Hayyan.
Harim terkejut ketika Uwais menyebut namanya.
“Bagaimana engakau mengetahui nama saya Harim bin Hayyan?’ tanya Harim. “Rohku telah mengenal rohmmu”, demikian jawan Uwais.
Uwais : kemudian menasihati Harim untuk selalu menjaga hatinya. Dalam arti mengarahkannya untuk selalu dalam ketaatan kepada-Nya melalui mujahadah, atau mengarahkan diri “dirinya” untuk mendengar dan mentaati kata hatinya.
Meskipun Uwais menjalani hidupnya dalam bersendirian dan kesunyian, tetapi pada saat-saat tertentu ia ikut bergiat dalam kegiatan jihad untuk membela dan mempertahankan agama Allah. Ketika terjadi perang Shiffin antara golongan Ali melawan Muawiyah, Uwais berdiri di golongan Ali. Saat orang islam membebaskan Romawi, Uwais ikut dalam barisan tentera Islam. Saat kembali dari pembebasan tersebut, Uwais diserang penyakit dan meninggal saat itu juga. (t.39 H).
Demikianlah sekelumit tentang Uais al-Qarani, kemudian hari namanya banyak di puji oleh masyarakat. Yunus Emre misalnya memujinya dalam satu sajak syairnya :
Kawan tercinta kekasih Allah;
Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani.
Dia tidak berbohong ; dan tidak makan makan haram
Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani
Di pagi hari ia bangun dan mulai bekerja,
Dia membaca dalam zikir seribu satu malam Allah;
Dengan kata Allahu Akbar dia menghela unta-unta
Di tanah Yaman, Uwais alQarani
Negeri Yaman “negeri di sebelah kanan “, negeri asal angin sepoi-sepoi selatan yang dinamakan nafas ar-rahman, Nafas dari Yang Maha Pengasih, yang mencapai Nabi dengan membawa bau harum dari ketaatan Uwais al-Qarani, sebagaimana angin sepoi-sepoi sebelumnya yang mendatangkan keharuman yang menyembuhkan dari kemeja Yusuf kepada ayahnya yang buta. Ya’kub (QS, 12: 95), telah menjadi simbol dari Timur yang penuh dengan cahaya, tempat dimana cahaya muncul, yang dalam karya Suhrawadi menggambarkan rumah kerohanian yang sejati. “Negeri di sebelah kanan “ itu adalah tanah air Uwais al-Qarani yanag memeluk Islam tanpa pernah betemu dengan nabi. Hikmah Yamaniyyah, “Kebijaksanaan Yaman,” dan Hikmah Yamaniyyah,”filosofi Yanani”, bertentangan, sebagaimana makrifat intuitif dan pendekatan intelektual, sebagaimana Timur dan Barat.
Doa dan Zikir
Satu hal yang perlu digarisbawahi dari diri Uwais al-Qarani, kemudian menjadi landasan dalam tareqat-tareqat sufi, selain baktinya yang luar biasa terhadap kedua orang tuanya dan sikap zuhudnya, adalah doa dan zikirnya. Uwais tidak pernah berdoa khusus untuk seseorang, tetapi selalu berdoa untuk seluruh umat kaum muslim. Uwais juga tidak pernah lengah dalam berzikir meskipun sedang sibuk bekerja, mengawasi dan menggiring ternak-ternaknya.
Doa dan zikir bagaikan dua sisi mata wang yang tidak dapat dipisahkan. Hakikatnya adalah satu. Sebab, jelas doa adalah salah satu bentuk dari zikir, dan zikir kepada–Ku hingga ia tidak sempat bermohon (sesuatu) kepada-Ku, maka Aku akan mengurniakan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang diminta orang yang berdoa kepada-Ku”.
Uwais selalu bedoa untuk seluruh muslimin. Doa untuk kaum muslim adalah salah satu bentuk perwujudan dari kepedulian terhadap “urusan kaum muslim”. Rasulullah saw. Pernah memperingatkan dengan keras: Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslim, maka ia tidak termasuk umatku.” Dalam hal ini, Rasulullah saw menyatakan bahwa permohonan yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dan mendahulukan doa untuk selain dirinya. Dan Uwais lebih memilih untuk medoakan seluruh saudaranya seiman.
Suatu ketika Hasan bin Ali terbangun tengah malam dan melihat ibunya, Fatimah az-Zahra, sedang khusu’ berdoa. Hasan yang pensasaran ingin tahu apa yang diminta ibunya dalam doanya berusaha untuk menguping. Namun Hasan agak sedikit kecewa, kerana dari awal hingga akhir doanya, ibunya, hanya meminta pengampunan dan kebahagian hidup untuk seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat kelak. Selesai berdoa, segera Hasan bertanya kepada ibunya perihal doanya yang sama sekali tidak mendoakan doanya untuk dirinya sendiri. Ibunya tersenyum, lalu menjawab bahawa apapun yang kita panjatkan untuk kebahagiaan hidup kaum muslim, hakikatnya, permohonan itu akan kembali kepada kita. Sebab para malaikat yang menyaksikan doa tersebut akan berkata “Semoga Allah mengabulkanmu dua kali lipat.”
Dari prinsip tersebut, para sufi kemudian menarik suatu prinsip yang lebih umum yang padanya bertumpu seluruh rahasia kebahagiaan. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini, harus kita berikan kepad orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah; jika kebaikan, berikanlah; jika pelayanan, berikanlah. Bagi para sufi, dunia adalah kubah, dan perilaku seseorang adalah gema dari pelaku yang lain. Secuil apapun kebaikan yang kita lakukan, ia akan kembali. Jika bukan dari seseorang, ia akan datang dari orang lain. Itulah gemanya. Kita tidak mengetahui dari mana sisi kebaikan itu akan datang, tetapi ia akan datang beratus kali lipat dibanding yang kita berikan.
Demikianlah, berdoa untuk kaum muslim akan bergema di dalam diri yang tentu saja akan nampak besar dan positif dalam membangun dan meningkatkan kualiti kehidupan spiritual seseorang. Paling tidak, doa ini akan menghapus ego di dalam diri yang merupakan musuh terbesar, juga sekaligus akan melahirkan dan menanamkan komitmen dalam diri “rasa Cinta”dan “prasangka baik”terhadap mereka, yang merupakan jalan lain dari ajaran sufi, sebagai manifestasi cinta dan pengabdian kepada Allah swt.
Uwais tidak pernah lengah untuk berzikir, mengingat dan menyebut-nyebut nama Allah meskipun ia sedang sibuk mengurus binatang ternaknya. Zikir dalam pengertiannya, yang umum mencakupi ucapan segala macam ketaatan kepada Allah swt. Namun yang dilakukan Uwais disini adalah berzikir dengan menyebut nama-nama Allah dan mengingat Allah, juga termasuk sifat-sifat Allah. Ibn Qayyim al-Jauziyyah ketika memaparkan berbagai macam faedah zikir dalm kitabnya “al-wabil ash-shayyab min al-kalim at-thayyib” menyebutkan bahwa yang paling utama pada setiap orang yang beramal adalah yang paling banyak berzikir kepad Allah swt. Ahli shaum yang paling utama adalah yang paling banyak zikirnya; pemberi sedekah yang paling baik adalah yang paling banyak zikirnya; ahli haji yang paling utama adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah swt; dan seterusnya, yang mencakup segala aktiviti dan keadaan.
Syaikh Alawi dalam “al-Qawl al-Mu’tamad,” menyebutkan bahwa mulianya suatu nama adalah kerena kemuliaan pemilik nama itu, sebeb nama itu mengandung kesan sipemiliknya dalam lipat tersembunyi esensi rahasianya dan maknanya. Berzikir dan mengulang-ulang Asma Allah, Sang Pemilik kemuliaan, dengan demikian, tak diragukan lagi akan memberikan sugesti, efek, dan pengaruh yang sangat besar. Al-Ghazali menyatakan bahawa yang diperoleh seorang hamba dari nama Allah adalah ta’alluh (penuhanan), yang berarti bahawa hati dan niatnya tenggelam dalam Tuhan, sehingga yang dilihat-Nya hanyalah Dia. Dan hal ini, dalam pandangan Ibn Arabi, bererti sang hamba tersebut menyerap nama Allah, yang kemudian merubahnya dengan ontologis. Demikianlah, setiap kali kita menyerap asma Allah lewat dzikir kepada-Nya, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita mengalami tranformasi. Yang pada akhirnya akan membuahkan akhlak al-karimah yang merupakan tujuan pengutusan rasulullah Muhammad saw.
Dilihat dari sudut pandang psikologi sufistik, pertama-tama zikir akan memberi kesan pada ruh seseorang, membentuknya membangun berbagai bentuk kebaikan, dan kekuatan inspirasi yang dicadangkan oleh nama-nama itu. Dan mekanism batiniah seseorang menjadi semakin hidup dari pengulangan zikir itu, yang kemudian mekanism ini berkembang pada pengulangan nama-nama secara sendiri. Jadi jika seseorang telah mengilang zikirnya selama satu jam, misalnya, maka sepanjang siang dan malam zikir tersebut akan terus berlanjut terulang, karena jiwanya mengulangi terus menerus. Pengulangan dzikir ini, juga akan berkait pada ruh semesta, dan mekanism universal kemudian mengulanginya secara sendiri. Dengan kata lain, apa yang dizikirkan manusia dengan menyebutnya berulang-ulang. Tuhan kemudian mulai mengulanginya, hingga terhijab dan menjadi suatu realita di semua tingkat fana. Wallahu a’lam bis-shawab.

Sabtu, 1 Januari 2011

Kembara 19 كلام مفيد للتأمل يا أصدقائي

al-muwariy as-so'eediy berkata... 

ustaz syakirin dan teman-teman,

 teruskan berjuang mengumpul pengalaman

 kongsilah kepakaran gilaplah kemahiran

 sekali terkandas bukan kelemahan

 kerna itu lumrah kehidupan

 tugas kita teruskan 'berjalan'

 yang pergi didoakan kekuatan

 yang tinggal didoakan ketabahan

 jangan menoleh ke kiri ke kanan

 jangan berhenti di tengah jalan

 teruskan berjalan walaupun perlahan

 akhirnya sampai ke puncak kejayaan

 pulanglah dengan ilmu dan amalan

  bimbinglah umat ke jalan keredhaan

 rugi sungguh jika direnungkan

 masa muda yang dipersiakan

 ke hulu ke hilir tiada haluan

 ke utara ke selatan tiada pencapaian

 ke timur ke barat tiada penghasilan

 ke bandar ke hutan tiada peningkatan

 siang dan malam semuanya kejahilan

 bulan dan tahunnya tiada sinaran

 makan dan tidurnya itulah penambahan

 hiburan dan percutian itu yang diutamakan

 kitabnya bersih tiada bercontengan

 kelasnya sedih tiada kehadiran

 kamusnya cantik walaupun berzaman

 bacaannya pelat tak pernah dihiraukan

 sebutannya kelat tak ingin dibetulkan

 akhir hidupnya betapakah penyesalan

 teruskan berjalan walaupun keseorangan

 kerna pejuang kadangkala tak berteman

 yang hendak,ikutlah;yang enggan,ketinggalan,

 kita tunjukkan tempat dan jalan,

 yang lambat,tinggal;yang tidur,selamat jalan,

 nak dipaksa,dah baligh;nak dibiarkan,kasihan...

 yang penting nasihat sentiasa berterusan... 

penutup bicara, beritahu kawan-kawan, tiga tokoh ini tolong jangan abaikan;  
 
1) Syeikh Muhammad Husni Al-Langkati
 2) Syeikh Abdul Wahab Ahmad Muhammad An-Nahriti Al-Husaini
 3) Syeikh Ahmad Muhammad Muhammad An-Nahriti Al-Husaini    

 Sekian. semoga tenang menghadapi ujian
 
 

Kembara 18 Nasihat "Mak"

sekadar gambar hiasan


Daripada : Ustaz Muhammad Shafiq b Elias
Nangis yang dicampur dengan periksa, penghujungnya hampa
kalau nak nangis , nangis kat maqam itu yang lebih bermakna..

mengadu pada Yang Maha Tahu, hati kan gembira selalu,
mengadu pada yang tak tahu menahu, selalu temu jalan buntu...

kirin,keep it moving, no turning back,
no stress, no fear, o my dear..

lawan tetap lawan,
tubuhmu kecil jiwamu pahlawan

one two three.....(rentak sepohon kayu)
kalaulah antum tak leh terima,
belajar tauhid apa gunanya,
kalaulah antum jiwa perkasa,
simpanlah cermat hai air mata(2x)

beratnya kaki melangkah pergi,
berat lagi beg dalam troli
beratlah lagi rasa di hati,
kerna meninggalkan desa An-Nahriti...(2x).


Setiap masa Doa muttasil,
supaya usaha mudah berhasil...

Semoga dapat ulangkaji dan menjawab dengan baik.....
nak najah, jgn toleh kiri kanan
jgn ambil tau apa yang berlaku..
yang penting imtihan itu selesaikan dahulu.....

pas imtihan, pergilah mencari penawar hatimu....
kesedihan janganlah dipendam,
carilah ketenangan roh di maqam-maqam,
luahkan perasaan di situ
(kalau sedih jugak makanla banyak-banyak nanti hilang sedihnya), supaya beban di dada bertambah ringan

sebagai mahasiswa didikan al-azhar,
kita mesti berjiwa besar,
tidak kalah dengan ujian....
tapi tabah untuk terus kehadapan...
baca dan hayati kisah hidup imam sulaiman hilmi tunahan .....

kasih anak sepanjang galah
kasih ayah sepanjang jalan
kasih ibu sepanjang zaman
kasih Nabi tiada penghabisan.....
allahumma solli ala saiyyidna muammad wa ala aai sayyidina muhammad....

Jumaat, 31 Disember 2010

Kembara 17 Kepulangan tidak kembali..

~Kenangan Mit Ghamr~

Detik menjejakkan kaki di bumi anbia,
Aku dan kawan-kawan seperjuangan sering dinasihati abang-abang lama,
Tidak pernah lekang dan putus nasihat mereka,
Juga tidak lupa memberi tunjuk ajar.

Di sini juga aku dipertemukan dengan seorang insan,
~Khalafawi~
Banyak juga dia memberi tunjuk ajar selok-belok perjalanan selaku pelajar yang bergelar Azhari,
Insan ini juga antara yang cukup disenangi di kalangan pelajar-pelajar baru,
Sangat menekankan hadaf pejalanan hidup di muka bumi anbia ini,

Antaranya BA(Hons) untuk dihadiahkan kejayaan ini kepada ibu dan ayah,
Sanad Al-Quran, Sanad Hadis Musalsal,
Tidak lupa juga ilmu berpesatuan untuk dijadikan wasilah penyebaran ilmu,
Begitulah nasihatnya yang tidak aku lupa,


Insan ini juga kerap menghabiskan masa dengan pelajar-pelajar baru,
 Kerna apa? Kerna tidak mahu adik-adik baru ini terus alpa dan leka,
Apabila berjumpa adik-adik baru, sering ditanya tentang madah kuliah yang tidak difahami,
 Tidak pernah kedekut untuk berkongsi segala pengalaman dan ilmu yang diperolehi,

 Tidak rugi apa-apa pabila berdamping dengannya,
 Bahkan ada sahaja benda baharu yang akan kita perolehi walaupun hanya sedikit,
 Insan ini juga membuka mata aku dan kawan-kawan tentang tariqat, hadis musalsal dan lain-lain,
~ Musalsal Yaumil Asyura~
 Memberi pendedahan yang pelbagai macam,

Tidak akan aku lupa ketika belajar dengannya,
 Dimarahi kerana tidak pandai memanfaatkan mu'jam asasi,
 Yang memalukan, dimarahi dikhalayak abang-abang lama,
Tetapi aku mengerti, kenapa insan ini perlakukan sedemikian,
  
  Nah! hasilnya aku telah perolehi...

Insan ini sering mengajak aku dan kawan-kawan untuk sama-sama duduk bersama orang-orang alim,
 Kata-katanya yang masih aku ingat, doa akan dimakbulkan pabila kita duduk disamping ulama,
 Kerna pasti pabila kita berdoa disamping ulama, siapa tahu kita memdapat tempias doa dari mereka,
Antaranya juga disuruh memberi penghormatan yang tinggi terhadap Ahli Bait Nabi Muhammad SAW,

 Memperkenalkan biah kehidupan orang arab, pemakanan dan juga adat orang arab,
Ini kerana agar mudah kita bergaul dengan mereka,
 Disuruh olehnya, sekiranya mahu masuk ke dunia orang arab perlu diketahui beberapa perkara,
 Makanan, para Qori yang masyhur dikalangan mereka, dan peta,
 Sungguh jauh perjalanan mengekori beliau ke sana ke mari,
 Ikutkan hati sungguh tidak berdaya lagi,
 Tetapi dilihat pula dari sudut yang lain, lebih banyak manfaatnya yang diperolehi darinya,
Kemahuannya, inginkan generasi baru tidak merasa kerugian tinggal di mesir ini,

Menunjuk jalan maqam-maqam, rumah para masyaikh, dan tempat-tempat membersihkan jiwa(tariqat),
Aaarrgghh..hati ini sudah terkelu untuk mencerita apa lagi, 
Cukup terlalu banyak...
~Musalsal Yaumul 'Aidil Fitri~
Sungguh!!!

Perkara yang cukup menyedihkan aku dan kawan-kawan ialah pemergiannya,
Pemergian dan kepulangannya ke tanah air tanpa khabar berita,
Terus menimbulkan 1001 persoalan yang bermain difikiran kami,
Acapkali pesoalan bermain di kepala. Kenapa balik ke Malaysia???
Memandangkan imtihan yang semakin kunjung tiba,
  

Sentap, terkilan, sedih dan bermacam perasaan berbaur dalam diri,
Banyak perkara yang perlu aku terima dan pelajari darinya,
Sebelum ini, insan ini menjanjikan mahu membawa aku ke sana, ke mari,
Perkenalkan syeikh itu dan syeikh ini,
Tetapi apakan daya, kepulangannya ke Malaysia lagi utama.

Tidak ku menyangka pertemuan kali terakhir, seminggu sebelum kepulangannya,
pada hari Jumaat selepas solat Jumaat di Masjid Saidina Hussain. Aku, Syuaib, Naqib dan Hazim telah dibawanya jaulah maqam sekitar kawasan Darasah. Kenangan terakhir yang tersirat dibalik semua ini...


Coretan ini di dedikasikan khas kepada insan yang ku gelar mursyid,
Ustaz Muhammad Shafiq bin Elias.
Selasa, 28 Disember 2010M /  22 Muharam 1432H


p/s: Untuk ustaz, jangan sesekali melupakan kenangan bersama kami 1 batch..
Yang mana, dikalangan kami engkaulah yang kami gelar "emak"..
Ketika mencatatkan entri ini, hanya tuhan sahaja yang tahu perasaan ini..


~Kenangan di Mit Ghamr~



Ahad, 26 Disember 2010

Kembara 16 Dari mana dan Kemana kita???

Bagaimana diri kita dan amalan kita? Bagaimana boleh kita mengenalnya? Adalah antaranya melalui ilmu Tasauf. Adakah kita mengerti maksud ilmu tasauf itu secara mendalam? Atau hanya sekadar mudah dilafazkan di bibir sahaja? Ilmu tasauf dari sudut pandangan saya ialah merupakan salah satu ilmu yang mana dapat mentarbiayah diri kita menjadi seorang hamba  patuh dan taat bulat-bulat kepada Allah serta menjadikan seseorang itu tawaduk dan serba zuhud dalam kehidupan bagi menharapkan keredhaan dari-Nya. Segelintir  manusia merasakan ia hanya sekadar ilmu yang  harus diketahui sebagaimana ilmu – ilmu yang lain ataupun ianya  ilmu untuk -orang yang ingin membersihkan dirinya atau  sekadar jalan bagi orang-orang yang mengharapkan kelebihan duniawi. Tapi tidak ramai yang merasakan dalam diri mereka bahawa segala amalan dan gerak-geri mereka tidak akan diterima oleh Allah S.W.T jika dilakukan tanpa hati yang bersih.

Sedarilah wahai teman semua,
Sungguh, tidaklah  kita dihidupkan di dunia ini hanya sia-sia. Adakah kita sudah lupa perjanjian yang telah kita meterai dengan Rafiqil ‘Ala-Allah S.W.T-terhadap penciptaan kita di bumi ini terhadap-Nya? Sesungguhnya termaktub firman-Nya di dalam Kitab il-Aziz :

وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالِإنسَ إلاَّ لِيَعْبُدُون
(51:56)

Betapa besarnya tanggungjawab kita sebagai seorang hamba kepada Allah S.W.T yang mana sekaligus kita dilaktik menjadi khalifah di muka bumi ini. Pertanggungjawaban dan amanah oleh Allah  yang ingin diberikan kepada langit, bumi, gunung-ganang  semuanya enggan dan takut kepada Allah S.W.T. Lalu manusia mengambil amanah itu. Disamping beribadah, tidak dilupakan untuk kita berusaha keluar mencari rezeki kurniaan dari-Nya.
Kita  acapkali alpa terhadap ini semua. Kita leka dan lupa tanggungjawab kita tentang maksud hidup kita di muka bumi ini. Ada yang bertanggapan dunia yang dikecapi ini adalah kekal segala-galanya dan manakala akhirat itu hanyalah seolah-olah tidak berlaku walaupun mereka beriman dengan adanya. Mana perginya hati untuk IMAN, ISLAM dan IHSAN??? Jika dilihat pada zaman milinia serba canggih ini, yang baik dianggap jahat dan keji, manakala yang buruk itulah yang kita rasakan sungguh sempurna dan terpuji. Adakah hati kita tenang pabila dicerita tentang dunia dan berpaling pula ketika mana diceritakan perihal akhirat atas kerana perasaan benci yang ada dalam diri? Malangnya jika perkara ini berlaku pada diri kita selaku orang yang telah dianugerahkan oleh-Nya kefahaman dalam agama tetapi kita masih tercari-cari matlamat kita di dunia. Bersolat dan berzikir belum menjamin kita tergolong dikalangan orang yang mendapat tempat di sisi tuhan Pencipta Sekalian Alam. Amalan-amlan lain juga turut akan dikira dan dipertimbangkan di akhirat kelak.
Sedarlah wahai teman semua ,
Pembersihan jiwa tidak akan berhasil melainkan dengan amalan. Maka  dengan sebab itulah orang yang melalui jalan ini perlu bermujahadah dan beristiqomah dalam perjalanannya.Jika tersilap sedikit maka dia tidak akan berjaya sampai kepada tujuannya yang sebenar iaitu redha Allah Azza Wajalla.  Kita dimasukan ke syurga adalah kerana rahmat-Nya dan dimasukkan ke neraka adalah kerana keadilanNya. Jangan kita tertipu dengan amalan kita tetapi lakukan suruhan Allah Taala itu semata-mata keranaNya(ikhlas). Mengharapkan cinta dan redhaNya serta takutkan marah dan kebencianNya.
Maka, renungan untuk kita bersama; persiapkanlah bekalan kita yang sebenarnya untuk bertemu Allah S.W.T di hari yang tiada manfaat bagi seseorang itu oleh harta benda dan anak-pinak melainkan orang yang datang dengan hati yang sejahtera. Hati yang bersinar dengan nur ilahi.Hati seorang hamba yang suci dari berpaling kepada selain tuhannya.

  Dedikasikan khas buat,
Diri ini hamba pendosa...673



Jumaat, 17 Disember 2010

Kembara 15 Hari Asyura dan Puasa Sunat???

Kisah Yaumul Asyura 

       
     Menceritakan tentang peristiwa yangmana nabi Musa a.s telah diselamatkan oleh Allah s.w.t daripada ancaman kaum firaun maka pada hari 10 Muharam (hari asyura) . Dan antara peristiwa yang lain adalah pembunuhan cucu nabi, Saiyidina Hussin r.a  di dalam peristiwa Karbala .


          Dan berkenaan dengan puasa sunat Asyura pula digalakkan kerana Rasulullah sentiasa berpuasa pada 10 Muharam bagi mengenang nabi Allah Musa. Dan pada ketika itu juga, apabila didapati oleh Rasulullah s.a.w bahawa kaum Yahudi di Madinah ketika itu juga berpuasa pada 10 Muharam. Maka Rasulullah bersabda,”Sekiranya aku hidup sampai ke tahun hadapan akan aku berpuasa pada hari yang ke-9. Maka di situ terdapat galakan dari baginda untuk berpuasa pada 9 dan 10 muharam bagi menunjukkan khilaf atau mukhlafah kita dengan Ahli Kitab kaum Yahudi dan Nasrani yang mana mereka ini kafirin(orang-orang kafir) tetapi mereka menumpang gembira atas keselamatan nabi Musa. Maka sekiranya hendak berpuasa, perlulah 1hari awal iaitu pada 9 muiharam sepertimana yang telah dianjurkan oleh Baginda. Tetapi barangsiapa tidak berpuasa pada 9 Muharam hendaklah dia berpuasa pada 11 Muharam bagi membezakan kita dengan Ahli Kitab kaum Yahudi dan Nasrani.

Kembara 14 مسلسل يوم العاشوراء

>>Demikianlah hasil pemburuan yang telah saya dan rakan-rakan perolehi. Hadis yang sama dibaca oleh syuyukhuna (Syeikh Mahmud Said Mamduh, Syeikh Abd.Majid Al-Iraqi, Syeikh Rifat Fauzi dan Syeikh Saad Saad Jawish)

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال : أن رسول الله صلي االله عليه وسلم قال : صيام يوم العاشوراؤ إنّي أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبلها


  • Harap maaf, di sini saya tidak dapat untuk menuliskan dari awal perawi sehinggalah kepada Abi Qatada kerana setiap syeikh yang saya dengar berbeza-beza pada perawinya. Harap maklum..